Suarkabar
Minggu, 4 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Berita
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Sumbar
    • Agam
    • Bukittinggi
    • Dharmasraya
    • Kab. Solok
    • Lima Puluh Kota
    • Mentawai
    • Padang
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman
    • Pasaman Barat
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • Teknologi
  • Berita
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Sumbar
    • Agam
    • Bukittinggi
    • Dharmasraya
    • Kab. Solok
    • Lima Puluh Kota
    • Mentawai
    • Padang
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman
    • Pasaman Barat
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • Teknologi
Suarkabar
No Result
View All Result
Home Bisnis

Saham Nike Sudah Anjlok, Tapi UBS Masih Waspada: Ini 5 Masalah yang Membebani NKE

saham NKE, Nike stock, target saham Nike, UBS Nike, prospek Nike, laba Nike 2027, saham Amerika

Detektips Cuan Detektips Cuan
20 September 2026, 10:55 WIB
A A
Saham Nike Sudah Anjlok, Tapi UBS Masih Waspada: Ini 5 Masalah yang Membebani NKE

Saham Nike Sudah Anjlok, Tapi UBS Masih Waspada: Ini 5 Masalah yang Membebani NKE

ShareShareShareShareShare

SUARKABAR – Saham Nike Belum Lepas dari Tekanan. Saham Nike Inc. (NYSE: NKE) kembali menjadi perhatian investor setelah UBS memangkas target harga 12 bulan saham tersebut dari US$48 menjadi US$42.

Pemangkasan tersebut setara dengan sekitar 13%.

UBS tetap mempertahankan rating Neutral.

Yang menjadi perhatian bukan hanya harga saham Nike yang sudah mengalami penurunan. UBS justru melihat risiko bahwa ekspektasi laba perusahaan masih terlalu tinggi dibandingkan kondisi bisnis yang terlihat saat ini.

Analis UBS Jay Sole memperkirakan Nike hanya mencatat laba per saham atau EPS sekitar US$0,39 pada kuartal pertama fiskal 2027.

Angka tersebut berada US$0,05 di bawah konsensus Wall Street sebesar US$0,44.

UBS juga memperkirakan panduan EPS kuartal kedua fiskal 2027 berada di kisaran US$0,31-US$0,43, jauh di bawah konsensus US$0,53.

Dengan kata lain, persoalan Nike saat ini bukan semata-mata apakah harga sahamnya sudah turun.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah laba Nike juga masih akan turun?

Mengapa Saham Nike Masih Mendapat Tekanan?

Ada sejumlah faktor yang menjadi perhatian UBS.

Faktor Kondisi
Target harga UBS US$42 dari US$48
Rating UBS Neutral
Estimasi EPS Q1 FY2027 US$0,39
Konsensus EPS Q1 US$0,44
Estimasi panduan EPS Q2 US$0,31-US$0,43
Konsensus EPS Q2 US$0,53
Estimasi EPS FY2027 UBS US$1,30
Konsensus buy-side US$1,55
Forward P/E Sekitar 21x
Short interest 6,4% dari float

Data tersebut berasal dari catatan riset UBS yang dikutip Investing.com.

1. Estimasi Laba Nike Dipangkas

Salah satu sinyal penting datang dari revisi estimasi laba.

UBS memangkas proyeksi EPS Nike untuk tahun fiskal 2027 sebesar 16% menjadi US$1,30.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi buy-side sekitar US$1,55.

Ini penting karena valuasi saham tidak hanya ditentukan oleh harga.

Investor juga membandingkan harga dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Jika harga saham turun tetapi estimasi laba juga terus dipangkas, maka saham tidak otomatis menjadi semakin murah.

Inilah salah satu konteks utama mengapa UBS masih berhati-hati terhadap NKE.

2. Nike Menghadapi Tekanan di Pasar China

Greater China menjadi salah satu persoalan utama.

UBS memperkirakan penjualan Nike di Greater China pada kuartal pertama fiskal 2027 turun sekitar 14% secara tahunan.

Menurut catatan UBS, tekanan tersebut berkaitan dengan beberapa faktor, termasuk:

  • partisipasi distributor yang lebih rendah dalam e-commerce;
  • tingkat persediaan yang masih tinggi;
  • perubahan kanal digital;
  • rencana pengurangan lebih dari 1.000 vendor digital pihak ketiga mulai 2027.

Data laporan resmi Nike juga menunjukkan bahwa Greater China memang masih menjadi wilayah yang menghadapi tekanan.

Pada kuartal IV fiskal 2026, pendapatan Nike Brand di Greater China tercatat US$1,? Wait, official segment data shows region revenue not in summary table directly; avoid exact region revenue. But EBIT Greater China was US$243 million, down 20%.

Secara keseluruhan, Nike menyebut penurunan pendapatan Nike Brand pada kuartal IV terutama berasal dari Greater China dan EMEA, meskipun sebagian tertahan oleh pertumbuhan di Amerika Utara.

3. Nike Direct Belum Pulih

Masalah lain berada pada kanal NIKE Direct.

Pada kuartal IV fiskal 2026, pendapatan Nike Direct mencapai US$4,1 miliar.

Angka tersebut turun 7% secara reported basis dan 9% secara currency-neutral basis.

Penurunan terutama berasal dari:

  • Nike Brand Digital yang turun 12%;
  • Nike-owned stores yang turun 7%.

Kondisi ini penting karena Direct merupakan bagian strategis dari model bisnis Nike.

Jika kanal langsung ke konsumen belum kembali tumbuh secara konsisten, pemulihan pendapatan grup menjadi lebih menantang.

UBS juga memperkirakan penjualan DTC Amerika Serikat pada kuartal pertama fiskal 2027 turun dalam kisaran mid-single digit secara tahunan.

Lini lifestyle seperti Dunks disebut menjadi salah satu faktor yang menekan performa.

4. Persaingan di Kategori Lifestyle Semakin Ketat

Nike tidak hanya menghadapi persoalan internal.

Persaingan dalam industri olahraga dan lifestyle juga berubah.

UBS menyebut data transaksi dan pemeriksaan kanal ritel menunjukkan adanya tekanan terhadap pangsa pasar Nike di kategori lifestyle Eropa.

Beberapa nama yang disebut dalam riset tersebut adalah On, Hoka, dan Adidas.

Situasi ini menjadi penting karena Nike selama bertahun-tahun mengandalkan kekuatan merek dan kategori lifestyle sebagai salah satu sumber pertumbuhan.

Ketika konsumen memiliki semakin banyak alternatif, Nike perlu kembali memperkuat produk yang relevan dengan tren pasar.

5. Converse Masih Menjadi Beban

Converse juga belum menunjukkan pemulihan.

UBS memperkirakan pendapatan Converse pada kuartal pertama fiskal 2027 turun sekitar 30% menjadi US$256 juta.

Angka tersebut konsisten dengan tekanan yang sudah terlihat dalam laporan keuangan Nike.

Pada kuartal IV fiskal 2026, pendapatan Converse mencapai US$244 juta, turun 32% secara reported basis dan 34% secara currency-neutral basis.

Untuk satu tahun penuh fiskal 2026, pendapatan Converse mencapai US$1,174 miliar, turun 31%.

Artinya, masalah Converse bukan hanya proyeksi analis.

Tekanan tersebut sudah tercermin dalam laporan keuangan terbaru Nike.

Fundamental Nike: Ada Perbaikan, tetapi Belum Merata

Meski menghadapi berbagai tekanan, kondisi Nike tidak sepenuhnya negatif.

Laporan resmi perusahaan menunjukkan pendapatan Nike pada tahun fiskal 2026 mencapai US$46,4 miliar, relatif datar secara reported basis dan turun 2% secara currency-neutral.

Namun, terdapat perbedaan performa antar kanal.

Wholesale tumbuh

Pendapatan wholesale kuartal IV mencapai US$6,6 miliar, naik 4%.

Untuk satu tahun penuh, pendapatan wholesale mencapai US$27,5 miliar, naik 6%.

Nike Direct turun

Pendapatan Nike Direct FY2026 mencapai US$17,7 miliar, turun 6% secara reported basis dan 8% secara currency-neutral.

Converse jatuh

Pendapatan Converse FY2026 mencapai US$1,174 miliar, turun 31%.

Data tersebut menunjukkan proses pemulihan Nike belum berjalan seragam.

Ada bagian bisnis yang mulai membaik, tetapi ada pula yang masih mengalami kontraksi.

Laba Nike Naik Tajam, tetapi Ada Catatan Penting

Nike mencatat laba bersih US$1,1 miliar pada kuartal IV fiskal 2026.

Angka tersebut naik 407% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

EPS dilusian mencapai US$0,72.

Namun, investor perlu melihat komposisi kenaikan tersebut.

Nike menyebut EPS kuartal IV mendapat manfaat sekitar US$0,52 per saham dari pemulihan yang diharapkan terkait tarif IEEPA.

Perusahaan juga mencatat manfaat sekitar US$986 juta terhadap gross margin dari pemulihan tarif tersebut.

Karena itu, kenaikan laba kuartalan tidak bisa langsung dianggap sebagai gambaran normalisasi laba operasional.

Investor perlu melihat bagaimana kinerja tersebut berkembang tanpa kontribusi faktor satu kali.

Forward P/E Nike Sudah Turun

Salah satu alasan saham Nike terlihat lebih murah adalah kontraksi valuasinya.

UBS menyebut forward P/E Nike kini sekitar 21 kali.

Sebagai perbandingan, rata-rata lima tahun berada di sekitar 34 kali.

Secara sederhana:

P/E turun → valuasi relatif terhadap estimasi laba terlihat lebih rendah.

Tetapi terdapat persoalan lain.

Jika estimasi EPS terus turun, investor harus menghitung ulang apakah P/E tersebut benar-benar mencerminkan valuasi yang menarik berdasarkan prospek laba terbaru.

Karena itu, rasio P/E sebaiknya dibaca bersama dengan:

  • pertumbuhan pendapatan;
  • margin;
  • EPS forward;
  • arus kas;
  • prospek pemulihan;
  • dan posisi kompetitif perusahaan.

Short Interest Nike Mencapai 6,4%

UBS juga mencatat short interest Nike telah mencapai 6,4% dari float, level tertinggi dalam lima tahun menurut data yang dikompilasi UBS.

Angka tersebut menunjukkan adanya posisi short yang cukup besar di pasar.

Namun, short interest tidak otomatis menentukan arah saham.

Jika kinerja Nike lebih baik dari ekspektasi dan investor yang melakukan short mulai menutup posisinya, volatilitas saham dapat meningkat.

Sebaliknya, jika laporan dan guidance mengecewakan, tekanan jual dapat tetap menjadi perhatian.

November Menjadi Periode Penting bagi Nike

Salah satu perhatian UBS adalah kemungkinan manajemen melakukan reset terhadap ekspektasi fiskal 2027 menjelang Investor Day pada November.

UBS memperkirakan guidance kuartal kedua dapat berada jauh di bawah konsensus.

Estimasi UBS berada di kisaran US$0,31-US$0,43 untuk EPS Q2, sementara konsensus berada di US$0,53.

Jika angka aktual atau guidance perusahaan berbeda signifikan dari ekspektasi tersebut, respons pasar bisa menjadi penting.

Investing.com juga melaporkan bahwa pasar opsi saat ini mengindikasikan potensi pergerakan saham sekitar 8% di sekitar tanggal laporan. Angka tersebut merupakan ekspektasi pasar opsi, bukan prediksi pasti terhadap arah harga.

Apa yang Harus Dipantau Investor NKE?

Ada beberapa indikator yang menjadi kunci dalam membaca laporan Nike berikutnya.

Pendapatan Amerika Utara

Apakah pertumbuhan di Amerika Utara mampu mengimbangi kelemahan wilayah lain?

Greater China

Investor perlu melihat apakah penurunan penjualan mulai stabil.

Nike Direct

Pemulihan kanal digital dan toko milik perusahaan menjadi indikator penting.

Wholesale

Pertumbuhan wholesale menjadi salah satu titik positif dalam laporan terbaru.

Gross Margin

Margin perlu dianalisis dengan mempertimbangkan dampak tarif dan faktor satu kali.

Converse

Investor perlu melihat apakah penurunan mulai melambat.

Guidance FY2027

Ini menjadi salah satu indikator terpenting karena dapat memengaruhi estimasi EPS analis.

Skenario yang Perlu Diperhatikan

Skenario pemulihan

Nike berhasil meningkatkan produk performa, memperbaiki Nike Direct, menstabilkan China, dan memperlambat penurunan Converse.

Jika hal tersebut terjadi, estimasi laba dapat kembali berubah.

Skenario tekanan berlanjut

Penjualan China tetap lemah, DTC belum pulih dan Converse terus turun.

Dalam kondisi tersebut, estimasi EPS dapat kembali mendapat tekanan.

Skenario volatilitas

Short interest yang tinggi membuat saham berpotensi lebih sensitif terhadap laporan keuangan dan guidance.

Perbedaan antara ekspektasi pasar dengan hasil aktual dapat memperbesar pergerakan harga.

Kesimpulan

Saham Nike memang sudah mengalami tekanan dan valuasinya telah turun dibandingkan rata-rata historisnya.

Namun, kasus NKE menunjukkan satu hal penting:

saham yang harganya sudah turun belum tentu otomatis murah.

UBS masih melihat risiko terhadap estimasi laba Nike. Target harga 12 bulan dipangkas dari US$48 menjadi US$42, sementara proyeksi EPS FY2027 diturunkan 16% menjadi US$1,30.

Di sisi fundamental, Nike menghadapi kombinasi persoalan berupa tekanan Greater China, penurunan Nike Direct, persaingan pada kategori lifestyle, serta kontraksi Converse.

Namun, terdapat pula perkembangan yang perlu diperhatikan, terutama pertumbuhan kanal wholesale dan upaya manajemen memperbaiki portofolio produk serta efisiensi bisnis.

Dengan demikian, fokus investor bukan hanya pada seberapa jauh saham NKE sudah turun, tetapi pada pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah laba Nike sudah mendekati titik balik, atau estimasi laba masih harus disesuaikan?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan sangat bergantung pada laporan keuangan berikutnya, guidance manajemen, perkembangan China, Nike Direct, margin, dan kinerja Converse.

FAQ Saham Nike

Apakah saham Nike sudah murah setelah turun?

Valuasi forward Nike yang dikutip UBS berada sekitar 21 kali, di bawah rata-rata lima tahun sekitar 34 kali. Namun, estimasi EPS FY2027 juga dipangkas menjadi US$1,30. Karena itu, valuasi perlu dibaca bersama dengan prospek laba.

Mengapa UBS memangkas target saham Nike?

UBS menurunkan target dari US$48 menjadi US$42 karena melihat risiko terhadap estimasi laba dan potensi guidance yang lebih lemah. Rating yang diberikan tetap Neutral.

Apa masalah terbesar Nike saat ini?

Tekanan utama mencakup Greater China, Nike Direct, persaingan kategori lifestyle dan penurunan Converse.

Apakah fundamental Nike sepenuhnya buruk?

Tidak. Wholesale Nike masih tumbuh, sementara manajemen menyatakan sedang memperbaiki portofolio produk dan efisiensi bisnis. Namun, performa antar kanal dan wilayah masih berbeda-beda.

Apa yang paling penting dipantau berikutnya?

Investor dapat memperhatikan EPS, revenue, gross margin, Greater China, Nike Direct, wholesale, Converse dan guidance fiskal 2027.

🚀 MAKSIMALKAN PROFIT TRADINGMU BARENG RHB SEKURITAS

Dapatkan riset mendalam dan data real-time lewat platform RHB Sekuritas.

⚠️ Wajib masukkan kode sales: DW9 saat registrasi biar kamu terus dapat update peta makro dan insight tajam dari tim kami.

👉 Join Grup: Klik disini untuk join

Yuk, kumpul dan diskusi bareng di grup eksklusif kami sekarang.

Disclaimer

Artikel ini berisi data historis, ringkasan riset publik, dan informasi umum — bukan rekomendasi atau ajakan membeli/menjual saham tertentu. Data valuasi dan proyeksi berasal dari berbagai sumber riset yang mungkin memiliki asumsi berbeda-beda dan tidak menjamin keakuratan ke depan. Nilai investasi saham dapat naik maupun turun, termasuk berisiko kehilangan modal. Selalu lakukan riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan sesuaikan dengan profil risiko serta kondisi keuanganmu sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber utama: Investing.com — Analisis UBS terhadap Nike dan Nike Investor Relations — Laporan Fiskal 2026.

Tags: Analisis Saham NikeBursa Saham AmerikaConverseGreater ChinaInvestasi Saham GlobalLaba NikeNikeNike DirectNike StockNKEProspek Saham NikeSaham Amerika SerikatSaham ASSaham NikeSaham NKETarget Harga NikeUBSWall Street

Berita Terkait

Ultrajaya dan Frisian Flag Indonesia Bentuk Kemitraan Strategis, FrieslandCampina Bakal Jadi Pengendali Baru ULTJ
Bisnis

Ultrajaya dan Frisian Flag Indonesia Bentuk Kemitraan Strategis, FrieslandCampina Bakal Jadi Pengendali Baru ULTJ

20 September 2026, 10:27 WIB
Bedah Saham BMRI 18 September 2026: Asing Berbalik Jual, Fundamental Bank Mandiri Masih Solid
Bisnis

Bedah Saham BMRI 18 September 2026: Asing Berbalik Jual, Fundamental Bank Mandiri Masih Solid

18 September 2026, 14:48 WIB
Ultrajaya dan Frisian Flag Indonesia Jalin Kemitraan Strategis
Bisnis

Ultrajaya dan Frisian Flag Indonesia Jalin Kemitraan Strategis, Apa Dampaknya bagi ULTJ?

18 September 2026, 14:31 WIB
Bedah Saham: TPIA (Chandra Asri Pacific) — Saham yang Terus Tertekan, Tapi Kenapa Analis Masih Optimis?
Bisnis

Bedah Saham: TPIA (Chandra Asri Pacific) — Saham yang Terus Tertekan, Tapi Kenapa Analis Masih Optimis?

13 September 2026, 17:30 WIB
Bedah Saham: AMMN (Amman Mineral Internasional) — Antara Momentum Kuat dan Pertanyaan Valuasi
Bisnis

Bedah Saham: AMMN (Amman Mineral Internasional) — Antara Momentum Kuat dan Pertanyaan Valuasi

13 September 2026, 17:19 WIB

Populer

  • Kenapa Saham Bank Selalu "Menentukan" Arah IHSG?

    Kenapa Saham Bank Selalu “Menentukan” Arah IHSG? Kenalan dengan Konsep Bobot Indeks

    Share
    Share Tweet
  • IHSG 18 September 2026 Melemah 0,33%, Asing Net Sell Rp1,78 Triliun: BMRI dan BBCA Jadi Beban

    Share
    Share Tweet
  • Sorotan Data: Arus Dana Asing Saat Pasar Bergejolak (Update 11 September 2026)

    Share
    Share Tweet
  • Bedah Saham: TPIA (Chandra Asri Pacific) — Saham yang Terus Tertekan, Tapi Kenapa Analis Masih Optimis?

    Share
    Share Tweet
  • 5 Kebiasaan Dasar yang Wajib Dimiliki Investor Pemula di Pasar Saham

    Share
    Share Tweet
  • Asing Masuk, Asing Keluar: Kenapa Arus Dana Asing Penting Buat Investor Pemula?

    Share
    Share Tweet
  • Bedah Saham: AMMN (Amman Mineral Internasional) — Antara Momentum Kuat dan Pertanyaan Valuasi

    Share
    Share Tweet
  • IHSG Rebound Tajam Usai Guncangan Jackson Hole — Ini yang Perlu Diketahui Investor Pemula

    Share
    Share Tweet
  • Rotasi Sektor: Cara Baca “Perpindahan Uang” di Bursa Saham

    Share
    Share Tweet
  • Ultrajaya dan Frisian Flag Indonesia Jalin Kemitraan Strategis, Apa Dampaknya bagi ULTJ?

    Share
    Share Tweet
Suarkabar.com

© 2026 Suarkabar.com

Laman

  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

Follow Us

No Result
View All Result
  • Berita
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Sumbar
    • Agam
    • Bukittinggi
    • Dharmasraya
    • Kab. Solok
    • Lima Puluh Kota
    • Mentawai
    • Padang
    • Padang Panjang
    • Padang Pariaman
    • Pariaman
    • Pasaman
    • Pasaman Barat
    • Payakumbuh
    • Pesisir Selatan
    • Sawahlunto
    • Sijunjung
    • Solok
    • Solok Selatan
    • Tanah Datar
  • Teknologi

© 2026 Suarkabar.com